Mencegah Bahaya Narkoba Sejak Dini – Menteri Sosial mengatakan narkoba bisa menjadi bencana kemanusiaan jika tidak ditangkal secara komprehensif. Khofifah menilai bahaya narkoba sama dengan bahaya terorisme bahkan bisa lebih menyeramkan karena peredarannya menggunakan cara yang lebih halus, canggih dan mewujud dalam beragam pola.

“Generasi bangsa ini secara perlahan direduksi energi dan produktifitasnya, akhirnya menjadi ketagihan dan pesakitan. Mereka dibuat kecanduan dan mati secara perlahan-lahan, mati sosialnya, jiwanya, raganya, akhirnya mati kembali kepada sang pencipta,” ungkap Mensos.

Mensos mengungkapkan, narkoba sendiri memakan korban jauh lebih besar setiap tahunnya dan terus meningkat. Hampir semua golongan, profesi dan usia berpotensi masuk dalam perangkap narkoba lantaran penyebarannya luar biasa massif.

“Baru-baru ini narkoba jenis baru Flakka bahkan sudah masuk ke Indonesia. Pecandunya dibuat seperti mayat hidup. Kalau sudah seperti itu bisa dibayangkan nasib Indonesia kedepan kalau generasi mudanya jadi pecandu narkoba,” ujarnya.

Lebih lanjut, Mensos mengatakan Tagana harus ambil bagian dalam upaya memerangi narkoba. Hal ini merupakan bagian dari aksi bela negara. Termasuk juga ikut menangkal radikalisme dan intoleransi yang mengancam eksistensi NKRI.

Kampung Siaga Bencana

Sementara itu, Mensos juga menyingung kesiap-siagaan Tagana dalam penanggulangan bencana alam, khususnya penyiapan Kampung Siaga Bencana.

Mensos memaparkan, ada 323 kabupaten/kota di Tanah Air yang rawan bencana alam sehingga perlu disiapkan Kampung Siaga Bencana untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat daerah setempat dalam menghadapi bencana.

“Saya harap setelah ini bisa segera disiapkan Sahabat Tagana baik dari unsur Pramuka, media, komunitas radio, dan elemen masyarakat lainnya. Saat ini terdapat sekitar 56 ribu Sahabat Tagana, 36 ribu Tagana dan 6.500 Tagana Psikososial,” terangnya.

Pembentukan KSB sendiri bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat lokal diwilayah bencana, mengurangi risiko bencana, serta membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana.

“Wilayah ini dipilih karena merupakan wilayah langganan banjir setiap tahunnya. Selama tiga hari 60 pemuda desa dilatih pengenalan bencana, dan lainnya,” tuturnya.